Labels

Kamis, 24 Mei 2012

STUDY TOUR EDISI MAHARANI ZOO DAN GOA MAHARANI

Pada hari Senin tepatnya pada tanggal 12 Maret 2012, siswa - siswi kelas XI SMA Negeri 1 Kota Cirebon bersinau wisata ke Maharani Zoo dan Goa Maharani. Maharani Zoo yang terletak di seberang pinggiran pantai utara yang merupakan objek wisata kebun binatang dan goa yang berlokasi di kecamatan Paciran, kabupaten Lamongan, Provinsi Jawa Timur. Tujuan mengunjungi Maharani Zoo dan Goa Maharani tiada lain untuk melihat, mengetahui, dan ikut melestarikan hewan – hewan dan goa yang ada di Maharani Zoo dan Goa tersebut. Keadaan tempat wisata Maharani Zoo dan Goa Maharani sangat menarik dan memiliki banyak koleksi hewan – hewan beserta tumbuhan – tumbuhan. Maharani Zoo atau Kebun Binatang Maharani memiliki dan menampilkan berbagai macam hewan oriental, luar negeri, maupun campuran. Di Goa Maharani pun memiliki berbagai macam jenis dan bentuk stalaktit dan stalakmit.

Saat masuk ke Maharani Zoo kita sudah disambut oleh berbagai macam sub spesies – sub spesies dari spesies - spesies hewan yang berasal dari seluruh penjuru dunia. Pada awal masuk ke Maharani Zoo kita langsung disuguhi oleh berbagai macam hewan mamalia yang memiliki empat kaki dan hidup di darat, di antaranya adalah kuda nil (Hippopotamus amphibius), rusa tutul atau rusa bawean (Axis kuhlii), rusa sambar (Cervus unicolor), sitatunga (Tragelhapus spekei), dan lain – lain.

Rute selanjutnya, ada Galeri Hewan yang berbentuk sebuah gedung di dekat kandang kuda nil. Di galeri hewan tersebut terdapat berbagai macam hewan juga dari berbagai penjuru dunia beserta ekosistem, tetapi hewan-hewan tersebut sudah diawetkan dan disimpan di dalam sebuah ruangan berkaca dan ada yang tidak berkaca. Di gedung tersebut sangat teratur, karena sudah dibuat jalur rute -rute agar pengunjung dapat melihat keseluruhan hewan-hewan yang sudah diawetkan tersebut. Hal tersebut juga membuat keteraturan pengunjung saat melihat dan mempehatikan hewan – hewan yang terdapat di gedung tersebut.

Ekosistem – ekosistem yang ditampilkan di Galeri Hewan tersebut di mulai dari ekosistem di sungai, gunung, hutan, padang pasir, padang rumput, sabana, daerah kutub, pantai, hutan gugur, taiga, tundra, dan lain - lain. Di setiap ruangan berkaca yang menampilkan ekosistem – ekosistem tersebut, ditampilkan pula hewan - hewan yang hidup di ekosistem tersebut walaupun hewan – hewan dalam satu ekosistem tersebut tidak memiliki kesamaan dalam spesies, tapi ada yang satu spesies dalam memiliki sub - sub spesies yang sudah diawetkan dengan air keras.

Di awal pintu masuk Galeri Hewan tersebut terdapat potongan – potongan kepala hewan seperti banteng, kuda, dan lain – lain, selanjutnya terdapat ekosistem di hutan atau di hutan hujan tropis dan terdapat hewan – hewan seperti macan atau harimau (Panthera tigris), berbagai hewan primate (Primates), dan lain – lain. Lalu galeri tersebut menampilkan ekosistem di daerah kutub, ada bison (Bison), banteng kutub (Bos javanicus), dan lain - lain. Pada ujung galeri tersebut terdapat hewan – hewan buas yang langka yang sudah diawetkan oleh air keras, seperti beruang kutub (Ursus maritimus), harimau putih, kuda zebra (Equus zebra), singa putih (Panthera leo), banteng (Bos javanicus), rusa, dan lain – lain. Ada pula kerangka buatan hewan – hewan yang hidup di zaman purba atau zaman dinosaurus, yaitu mammoth (Mammuthus primigenius), Ptrodactyl atau burung pada zaman purba, paus biru (Balaenoptera musculus), dan lain – lain.

Lalu saat sudah mengunjungi galeri hewan tersebut, rute selanjutnya adalah hewan – hewan mamalia, seperti unta (Camelus bactrianus), kangguru merah (Macropus rufus), kangguru abu – abu (Macropus giganteus), kuda mini (Equus ferus caballus), burung kasuari (Casuarius casuarius), tortoise star atau kura – kura bintang, rusa jawa, flamingo (Phoenicopterus ruber), bangau merah, burung pelikan atau burung undan (Pelecanus conspicillatus), iguana (Iguana iguana), kangguru tanah (Wallabia agilis), kambing gunung (Ammotragus lervia), dan lain – lain.

Selanjutnya ada tempat peristirahatan berupa taman kecil dan ada patung buah – buahan seperti stroberi, semangka, dan lain – lain di dekat kandang ayam kate. Ada dua jalur, yaitu jalur ke tempat hewan singa dan harimau dan ke jalur Goa Maharani. Yang pertama ke jalur tempat hewan singa dan harimau. Di sana terdapat harimau jawa (Panthera tigris sondaica), harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae), harimau bengal (Panthera tigris tigris), singa (Panthera leo), dan singa putih (Panthera leo krugeri). Di tempat hewan singa dan harimau tersebut memiliki kandang – kandang yang sangat mewah seperti kerajaan – kerajaan yang ada di Yunani di masa kuno.

Rute selanjutnya, kembali ke pertigaan dan berpindah ke jalur menuju Goa Maharani. Saat menuju Goa Maharani terdapat berbagai hewan – hewan mamalia yang memiliki ukuran mini. Sebelum masuk ke Goa Maharani terdapat kelelawar yang sangat banyak yang bersarang didinding atas goa.

Di dalam Goa Maharani terdapat berbagai macam stalaktit dan stalakmit. Stalaktit adalah jenis speleothem (mineral sekunder) yang menggantung dari langit-langit gua kapur. Stalaktit terbentuk dari pengendapan kalsium karbonat dan mineral lainnya, yang terendapkan pada larutan air bermineral. Batu kapur adalah batuan kalsium karbonat, yang dilarutkan oleh air yang mengandung karbondioksida, sehingga membentuk larutan kalsium bikarbonat.

Istana Maharani, demikian goa ini dinamakan oleh Bupati Lamongan R. Mohamad Faried, SH sesuai dengan kecantikan sinarnya dan berdasarkan usulan salah seorang pekerja penemu goa atas mimpi istrinya. Goa Istana Mahara­ni ditemukan oleh 6 penggali tanah coral bahan fosfat dan pupuk dolomit yang dipimpin oleh mandor Sunyoto pada tanggal 6 Agustus 1992. Luasnya kurang lebih 2.500 m2 dengan kedalaman 25 m dari permukaan tanah. Nama maharani lahir dari mimpinya istri Sunyoto, sang mandor. Malam sebelum ditemukannya goa, dia bermimpi melihat cahaya bunga­ - bunga yang sangat indah berwarna - warni yang dijaga oleh dua ekor naga raksasa bermahkota. Dua ekor naga tersebut kini divisualisasikan berbentuk dua patung naga dengan dua burung garuda penjaga pintu masuk gua yang disebut Gerbang Paksi Tatsoko.

Salah satu keajaiban alam berupa gua istana maharani yang menyimpan keindahan alam lebih spesifik dan unik di atas rata-rata gua wisata yang lain. Bahkan menurut prof Dr. KRT. Khoo ahli perguaan internasional dari yayasan Speleologi Indonesia di Bogor menilai bahwa stalaktit dan stalakmit di gua istana Maharani masih tumbuh. Pertumbuhannya mencapai kurang lebih 1 Cm per sepuluh tahun. Karenanya keindahan gua ini bias disejajarkan dengan gua Altamira di Spanyol. Gua Mamonth di Amerika Serikat dan gua Carlsbad di Perancis. Stalaktit dan stalagmit yang tumbuh di dalam gua dapat memancarkan cahaya warna - warni bila terkena cahaya. Menyadari kelebihan tersebut Pemerintah Kabupaten Lamongan mengelolanya sebagai obyek wisata primadona di samping Tanjung Kodok dan situs purbakala Makam Sunan Drajat. Fasilitas yang dibangun dibagi dalam tiga zone, yaitu zone umum, zone pera­lihan dan zone inti, lokasi gua ini 100 m ke timur dari Tanjung Kodok. Di dalam Goa memang terdapat stalaktit dan stalagmit yang menyerupai singgasana Maharaja, flora dan fauna, yang sangat indah bersinar – sinar seperti mutu manika mintan baiduri. Stalaktit dan stalagmite tersebut ada yang disebut Lingga Pratala (me­nyerupai alat vital laki - laki), Yoni Pratiwi (alat vital perempuan), Cempaka Tirta (bunga kanthil), Karang Raja Kadal (menyerupai dinosaurus), Selo Gajah (menyerupai kepala gajah), bunga Mawar, pohon Beringin dan berbagai bentuk lainnya yang teramat unik dan indah.

Menurut kepercayaan masyarakat sekitar, ada beberapa mitos yang dipercaya. Salah satunya adalah tentang sosok Roro Ayu Mantili, putri dari kerajaan Madangkara, yang sering menampakkan diri di dalam gua didampingi para embannya. Air suci ini bersumber pada sebuah sumur yang terletak di tengah gua yang berbentuk mulut naga. Air tersebut dapat dipergunakan untuk penyembuhan berbagai penyakit, termasuk seperti penyakit gila. Menurut penuturan juru kunci Gua Maharani, Sugeng, bahwa setiap bulan suro Jumat Kliwon para wali Allah (WaliSongo) mengadakan pertemuan di dalam bagian gua yang berbentuk mulut naga tersebut. Ia juga pernah bertemu sapa dengan Bung Karno sebanyak dua kali di sana.

Tetapi Goa Maharani tidak sepenuhnya utuh, karena sudah ada renovasi untuk membuat rute jalan mulai dari masuk ke dalam goa sampai keluar goa bagi para pengunjung agar pengunjung dapat melihat keindahan Goa Maharani dengan nyaman dan tidak terjadi hal – hal yang tidak inginkan. Keindahan Goa Maharani pun lebih diindahkan dengan adanya lampu - lampu yang berwarna – warni pada stalaktit dan stalagmit yang berada di dinding – dinding goa tersebut.

Bentuk stalaktit dan stalakmit yang terbentuk di dinding goa dengan proses selama beribu – ribu tahun lalu itu diberi nama pula, tetapi dengan bahasa jawa. Karena bentuk – bentuk stalaktit dan stalakmit tersebut kebanyakan mirip dengan suatu bentuk atau hewan yang menjadi kepercayaan warga sekitar. Ada Selo Waringin, Sapto Relung, Dampar Singgahsana, Wojo Yakso, Wono Purwo M., Satto Relung Rogo, Paseban Pandadaran, Sekar Kenongo, Ilat Nogo, Songgo Suwono, Karang Langit, dan Sekar Kantil Kembar.

Saat sudah keluar dari Goa Maharani, rute selanjutnya adalah ke Galeri Goa Maharani. Di dalam galeri tersebut menampilkan berbagai macam fosil kayu, berbagai macam bentuk dan jenis bebatuan yang ditemukan di dalam Goa Maharani. Ada batu karang, batu berlian, batu rubi, batu delima, dan bebatuan lainnya yang mempunyai beranekaragam warna dan bentuk. Di dalam galeri tersebut pun ada Goa Hunian pada zaman purba. Pada Goa Hunian tersebut ditampilkan patung – patung manusia purba yang sedang melakukan aktivitas pada masa purba tersebut, dari mulai meramu makanan, memburu hewan, mengolah makanan, membuat lukisan di dinding goa, dan lain – lain. Ada juga patung seperti arca yang tertempel di dinding goa pada akhir galeri Goa Maharani.

Setelah keluar dari galeri Goa Maharani, idilanjutkan ke wilayah hewan – hewan primata. Ada orang utan (Pongo pygmaeus), siamang (Symphalangus syndactylus), kera (Hylobates lar), beruk (Macaca radiata), kera jepang (Macata fuscata), simpey (Presbytis melalophos), surili (Presbytis comata), dan lain – lain.

Setelah melewati rute hewan – hewan primata, sudah disambut oleh rute hewan – hewan mamalia yang buas. Ada puma (Puma), jaguar (Pantheraonca), dan cheetah (Acinonyx jubatus).Lalu rute selanjutnya adalah rute hewan – hewan berjenis Aves atau hewan yang berspesies burung. Di rute tersebut menampilkan burung – burung dari berbagai negara yang ada di dunia. Di mulai dari burung khas Indonesia sampai burung khas luar negeri maupun campuran. Ada burung merak (Pavocristatus), burung beo atau burung macaw (Gracula), burung kakatua (Cacatuidae), burung kakatua jambul jingga (Cacatua sulphurea citrinocristata), burung scarlet macaw (Ara macaw), burung nuri sayap hitam (Eos cyanogenia), burung nuri bayan (Eclectus roratus), burung jalak putih (Sturnus melanopterus), burung jalak Bali (Leucopsar rothschildi), burung jalak kerbau (Acridotheres javanicus), burung julang mas (Aceros undulatus), dan lain – lain.

Selanjutnya ada tempat peristirahatan berupa café, di dekat café tersebut terdapat hewan kangguru albino, llama (Lama glama), marmoset (Callithrix jacchus), alpaca (Vicugna vacos) dan lain – lain. Di dalam café pun terdapat hewan – hewan yang memiliki kelainan gen atau albino, ada raccoon (Procyon lotor), ular albino, tupai albino, merak albino, skunk (Mephitidae), dan lain – lain.

Lalu di rute terakhir terdapat hewan caracal (Caracal caracal) yang termasuk ke dalam spesies kucing, ada serval (Leptallutus serval) sejenis kucing juga, ada coatimundi (Nasua narica) yang seperti raccoon (Procyon lotor), ada beruang madu (Helarctos malayanus), ada buaya muara (Crocodylus porosus), dan lain – lain.

Kesimpulannya, Maharani Zoo dan Goa Maharani adalah tempat objek wisata yang sangat menarik dan tidak membosankan bagi setiap para pengunjung yang datang. Maka Maharani Zoo dan Goa Maharani hampir tidak pernah sepi akan pengunjung walaupun Maharani Zoo dan Goa Maharani tidak terletak di kota besar yang ada di Jawa Timur. Pada objek wisata Maharani Zoo terdapat berbagai macam ekosistem, spesies, gen hewan – hewan beserta tumbuhan – tumbuhan dari berbagai negara yang ada di penjuru dunia. Hewan – hewan yang ditampilkan di Maharani Zoo kebanyakkan menampilkan hewan – hewan yang belum kita kenal dan belum kita lihat di kebun binatang yang pernah dikunjungi di mana pun, seperti hewan hewan albino, kangguru, dan masih banyak lagi. Situs objek wisata kebun binatang ini sangat memperhatikan kepuasan para pengunjung dan membuat kebun binatang ini mempunyai ciri khas tersendiri dibandingkan dengan kebun binatang lain yang ada di pulau Jawa. Hal itulah yang membuat para pengunjung mengisi waktu liburannya ke Maharani Zoo walaupun harus menempuh dengan jarak yang lumayan jauh.

Goa Maharani pun menjadi salah satu ciri khas objek wisata yang ada di Lamongan, Jawa Timur. Goa Maharani sempat dikunjungi oleh Menteri Penerangan RI, yaitu oleh bapak M. Harmoko. Dari kunjungan tersebut bapak M. Harmoko membuat suatu ukiran yang bertuliskan bahwa, “Di dunia ada tujuh keajaiban. Di tambah satu lagi, yakni Goa Maharani.”. Karena konon, Goa Maharani adalah salah satu hasil penemuan galian pada masa adanya Istana Maharani.

Banyak pengunjung yang takjub karena melihat berbagai macam bentuk stalaktit dan stalakmit yang sangat indah dan memukau. Dengan dibantu adanya efek pencahayaan warna – warni yang indah, seluruh stalaktit dan stalakmit pun menjadi benar – benar sangat indah dan cocok menjadi objek “cuci mata” atau refreshing otak. Tetapi keadaan di Goa Maharani ini licin dan lembab, para pengunjung tetap harus berhati – hati saat menelusuri Goa Maharani tersebut.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar